Profil Muhammad Suryo dan Insiden Maut di Kulon Progo
![]() |
| Muhammad Suryo, Bos rokok HS. (Ist) |
AMANAH INDONESIA, JAKARTA -- Ruas Jalan Nasional Purworejo–Wates di Kulon Progo mendadak menjadi titik perhatian pada Minggu siang, 1 Maret 2026. Bukan hanya karena kecelakaan yang terjadi, tetapi karena salah satu nama yang terlibat dikenal luas di dunia usaha.
Di tengah aktivitas touring, insiden yang melibatkan motor gede Harley Davidson dan Yamaha Jupiter MX berujung tragedi. Istri pengusaha Muhammad Suryo dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara Suryo, yang menjabat sebagai CEO Surya Group dan pemilik merek rokok HS, mengalami luka serius dan masih dalam perawatan intensif.
Peristiwa yang Masih Diselidiki
Aparat kepolisian hingga kini masih mendalami kronologi kecelakaan. Detail mengenai posisi kendaraan, kecepatan, hingga kemungkinan faktor teknis belum diumumkan secara final.
Yang pasti, insiden tersebut terjadi di jalur nasional yang cukup padat, menghubungkan wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peristiwa itu sekaligus menambah daftar kecelakaan yang melibatkan kendaraan berkapasitas besar di jalan umum.
Sosok di Balik Surya Group
Nama Muhammad Suryo selama ini identik dengan ekspansi bisnis yang agresif dalam beberapa tahun terakhir. Ia lahir di Lampung Timur dan tumbuh besar di Bengkulu, memulai usaha dari sektor air isi ulang sebelum memperluas bisnis ke konstruksi, properti, hingga minyak dan gas.
Langkah paling signifikan terjadi pada 2024 saat mendirikan pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang. Dari awalnya puluhan pekerja, perusahaan itu berkembang menjadi ribuan karyawan dengan produksi jutaan batang per hari.
Rencana ekspansi 2026 bahkan mencakup pembangunan beberapa pabrik baru di Yogyakarta dan Lampung Timur dengan target perekrutan hingga 10.000 tenaga kerja.
Pendekatan Inklusif dan Aktivitas Sosial
Di internal perusahaan, Suryo dikenal menerapkan pola rekrutmen yang tidak semata-mata berpatokan pada ijazah formal. Ia membuka peluang bagi pencari kerja dengan latar belakang beragam, termasuk penyandang disabilitas.
Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, Surya Group juga terlibat dalam pembangunan fasilitas ibadah di sejumlah daerah. Aktivitas sosial tersebut menjadi bagian dari citra korporasi yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir.
Antara Ekspansi dan Duka
Tragedi di Kulon Progo menghadirkan ironi: ketika perusahaan berada pada fase pertumbuhan, kehidupan pribadi justru diuji.
Publik kini menunggu dua perkembangan sekaligus—hasil penyelidikan resmi terkait kecelakaan dan kondisi kesehatan Muhammad Suryo. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dinamika bisnis dan risiko kehidupan berjalan berdampingan, tanpa bisa sepenuhnya diprediksi.



