Paragon Tegaskan Guru sebagai Arsitek Peradaban, 25.000 Pendidik Hadiri Wardah Inspiring Teacher Gen 8
Dengan tema “Dari Kelas untuk Kebaikan Tanpa Batas”, WIT Gen 8 menegaskan satu pesan utama: perubahan besar bangsa berakar dari ruang kelas. Dari interaksi harian guru dan murid, fondasi peradaban dibangun.
Sejak diluncurkan, program Wardah Inspiring Teacher telah menjangkau lebih dari 36.000 guru di seluruh Indonesia—menunjukkan pergeseran dari sekadar program CSR menjadi gerakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Pendidikan sebagai Investasi Peradaban
Hadir sebagai keynote speaker, Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute, menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas manusianya.
“Bagi kami, kemajuan bangsa tidak pernah dimulai dari pertumbuhan bisnis, tetapi dari pertumbuhan manusia. Pendidikan adalah fondasi kesejahteraan, dan guru adalah arsitek peradaban,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan pendidikan bukan sebagai isu sektoral, melainkan strategi pembangunan jangka panjang. Dalam perspektif Paragon, investasi terbesar sebuah bangsa bukanlah pada infrastruktur fisik, melainkan pada kapasitas intelektual dan karakter manusianya.
Kolaborasi Perguruan Tinggi: Jalur Akademik yang Terstruktur
Momentum WIT Gen 8 juga menandai langkah strategis baru melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak pernah berdiri sendiri.
“Penguatan guru adalah agenda strategis masa depan bangsa. Pendidikan tinggi yang kuat bertumpu pada fondasi dasar dan menengah yang kokoh,” ungkapnya.
ITB resmi mengambil peran melalui program micro-credential bagi alumni WIT, khususnya guru Rumah Belajar WIT. Program ini memungkinkan pembelajaran berkelanjutan guru dikonversi menjadi SKS dan diintegrasikan dalam jalur akademik lanjutan—sebuah terobosan yang memperkuat kesinambungan sistem pendidikan nasional.
Tiga Tahap Transformasi Guru
Desain pembelajaran WIT Gen 8 berlangsung selama lima bulan dan terbagi dalam tiga fase strategis:
-
Penjelajah Makna (1 bulan)
Refleksi identitas dan kepemimpinan melalui modul Guru Belajar dan Pemimpin Belajar. -
Penenun Aksi (2 bulan)
Pelatihan Design Thinking dan Project-based Learning (PjBL), diikuti implementasi proyek nyata di kelas. -
Pemantik Inspirasi (2 bulan)
Dokumentasi praktik baik dan diseminasi melalui platform digital serta showcase kolaboratif.
Selain itu, tersedia Program Sertifikasi Kompetensi Guru berbasis AI, Data, dan STEMBA bagi alumni terpilih—memperkuat literasi teknologi sekaligus memberi pengakuan formal atas pembelajaran profesional berkelanjutan.
Guru sebagai Aktor Utama Transformasi
Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI, Temu Ismail, menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional tidak dapat hanya bertumpu pada kurikulum atau regulasi.
“Guru harus diposisikan sebagai aktor utama perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan. Yang kita bangun adalah sistem yang memampukan guru untuk terus belajar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat paradigma baru: transformasi pendidikan bersifat struktural sekaligus kultural—mengubah cara guru belajar, berjejaring, dan diakui secara profesional.
Dari Program ke Gerakan Nasional
Acara pembukaan yang dimoderatori Dewi Sandra ini diikuti sekitar 1.000 peserta secara langsung di SABUGA ITB, serta ribuan guru melalui nobar di sembilan kota dan siaran daring nasional.
Skala partisipasi ini memperlihatkan bahwa Wardah Inspiring Teacher telah bertransformasi dari program tahunan menjadi gerakan nasional jangka panjang—mendampingi guru untuk terus belajar, bertumbuh, dan saling menguatkan.
Dalam konteks pembangunan Indonesia menuju generasi emas, penguatan guru menjadi simpul strategis. Paragon meyakini bahwa dari ruang kelas—yang mungkin sederhana—lahir fondasi karakter, daya saing, dan keberlanjutan bangsa.
“Dalam keterbatasan, guru tidak berhenti. Guru bertahan. Guru bertumbuh. Dan dari ruang kelas yang mungkin sederhana, lahirlah kebaikan tanpa batas.”
Kalimat penutup tersebut bukan sekadar slogan, melainkan afirmasi bahwa masa depan Indonesia dimulai dari guru yang terus belajar hari ini.



