Sumatra Menangis: Pameran Denny JA Angkat Krisis Ekologi di Bulan Ramadhan
![]() |
| Denny JA dan Imajinasi Nusantara: Ketika Seni Digital Menggugat Kerusakan Lingkungan |
AMANAH INDONESIA, JAKARTA -- Di momentum bulan suci Ramadhan, pameran lukisan bertajuk “Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi” resmi digelar di Galeri Lukisan Denny JA, Padel District Ciputat.
Pameran ini menghadirkan refleksi visual tentang krisis lingkungan dan perubahan iklim yang kian nyata di Indonesia, khususnya di Sumatra.
Lebih dari seratus karya dipamerkan, termasuk 27 lukisan dalam serial utama Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi.
Serial ini menjadi sorotan karena menampilkan potret dramatis bencana ekologis sebagai cermin kegagalan kolektif manusia dalam menjaga alam.
Salah satu karya yang paling menyentuh adalah lukisan berjudul "Tangan Terakhir yang Meminta".
Dalam lukisan tersebut, seorang anak lelaki terperangkap pusaran banjir, tangannya terangkat ke langit. Ekspresi wajahnya bukan sekadar ketakutan, melainkan gugatan moral terhadap generasi yang mewariskan kerusakan lingkungan.
Di latar belakang, siluet kota tampak samar. Puing kayu dan batang pohon mengambang di air keruh yang menjadi simbol pembabatan hutan dan eksploitasi alam.
Lukisan ini menegaskan bahwa bencana bukan sekadar takdir hujan, melainkan konsekuensi dari pilihan pembangunan yang berulang.
Genre Imajinasi Nusantara: Perpaduan Realisme, Budaya, dan AI
Denny JA memperkenalkan pendekatan estetik yang ia sebut sebagai Genre Lukisan Imajinasi Nusantara. Konsep ini memadukan realisme figur manusia, simbol budaya lokal seperti batik, serta lanskap surealis dengan dukungan kecerdasan buatan.
Teknologi bukan menjadi pusat karya, melainkan alat konseptual untuk memperluas kemungkinan visual dan memperdalam tafsir sosial. Batik dalam lukisan tidak sekadar ornamen, tetapi simbol identitas, spiritualitas, dan keberlanjutan memori budaya.
Figur manusia digambarkan realistis—tatapan mata, kerut wajah, hingga gestur tubuh dipresentasikan detail dan emosional.
Namun latarnya sering kali surealis: langit terasa berat, air menjadi pusaran tak wajar, kota hadir sebagai siluet dingin. Unsur ini merepresentasikan kegelisahan zaman dan dinamika sosial-politik.
Melalui pendekatan tersebut, karya-karya ini tidak hanya menampilkan bencana ekologis, tetapi juga menyuarakan kritik terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif.
Seni, AI, dan Lanskap Moral
Dalam sejarah seni rupa Indonesia, teknologi bukan hal baru. Namun Denny JA menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat konseptual untuk membangun imajinasi kolektif tentang Nusantara yang terluka.
Kritikus seni rupa senior Agus Dermawan T bahkan menyebutnya sebagai pelukis Indonesia pertama yang secara sadar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun genre lukisannya sendiri.
Sebelumnya, karya Denny JA juga sempat viral ketika menggambarkan Paus mencuci kaki rakyat Indonesia di ruang publik, bertepatan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta. Lukisan itu memindahkan simbol agama ke ruang sosial dan menjadi tafsir visual tentang spiritualitas yang membumi.
Seperti serial Sumatra Menangis, karya tersebut bukan dokumentasi peristiwa, melainkan interpretasi sosial.
Ekologi sebagai Pusat Narasi Seni Kontemporer
Dalam 27 lukisan serial ini, Denny JA memotret banjir, tanah longsor, hutan gundul, hingga keluarga yang bertahan di tengah air coklat. Alam digambarkan bukan sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang bersuara.
Keistimewaan serial ini bukan hanya pada penggunaan teknologi, tetapi pada keberanian menjadikan isu lingkungan dan krisis iklim sebagai pusat narasi seni rupa kontemporer Indonesia.
Dalam konteks Ramadhan, pesan yang dihadirkan menjadi semakin reflektif. Ramadhan identik dengan pengendalian diri. Pertanyaannya, mampukah manusia menahan kerakusan ekologis?
“Tangan Terakhir yang Meminta” menjadi metafora spiritual sekaligus peringatan. Tangan yang terangkat bukan hanya simbol permohonan, tetapi juga tanggung jawab.
Sumatra menangis bukan hanya karena hujan. Ia menangis karena manusia lupa bahwa hutan adalah benteng kehidupan, sungai adalah urat nadi peradaban, dan tanah bukan sekadar komoditas ekonomi.
Jadwal dan Lokasi Pameran
Pameran “Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi” berlangsung selama 1–30 Ramadhan 1447 H, pukul 10.00–24.00 WIB, terbuka gratis untuk umum. Setelah Ramadhan, serial ini tetap dipajang setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 24.00 WIB sampai hadir seri lukisan berikutnya.
Di balik estetika kanvas, realitas menunjukkan Sumatra kehilangan jutaan hektare hutan dalam beberapa dekade terakhir. Pameran ini menjadi alarm visual bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang menuntut perubahan sikap dan kebijakan.
Ramadhan datang sebagai kesempatan refleksi.
Apakah tangan yang terangkat itu benar-benar akan menjadi tangan terakhir.
Ataukah kita memilih menjadi tangan yang menjawab sebelum pusaran itu membesar dan menelan sejarah kita sendiri.
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
[https://www.facebook.com/share/1KQdZK7B2M/?mibextid=wwXIfru](https://www.facebook.com/share/1KQdZK7B2M/?mibextid=wwXIfru)



