Kurs Rupiah Bergerak Tak Stabil, Apa Artinya Bagi Daya Beli?
![]() |
| ILUSTRASI. Rupiah |
Pergerakan ini menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat yang merasakan dampaknya dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Pelemahan rupiah pada pagi ini menunjukkan bahwa masih banyak ketidakpastian yang memengaruhi pasar valuasi mata uang domestik.
Meski kurs sempat bergerak turun, analis melihat tekanan tersebut relatif terbatas dan ada potensi pelemahan berbalik menjadi kekuatan jika beberapa data global bergerak sesuai perkiraan.
Sinyal dari Data Ekonomi Amerika Serikat
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, melihat ruang bagi rupiah untuk kembali bergerak lebih kuat dalam jangka pendek, terutama dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang dinilai kurang solid.
Data penjualan ritel AS untuk Desember 2025 tercatat stagnan di angka 0,0 persen month-to-month, di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa konsumsi dalam perekonomian terbesar dunia sedang lesu, yang bisa menjadi pertimbangan Bank Sentral AS (The Fed) untuk mengevaluasi kebijakan suku bunganya.
Sementara itu, data tenaga kerja menunjukkan NFP (non-farm payrolls) AS Januari 2026 bertambah 130 ribu, lebih tinggi dari perkiraan 70 ribu.
Namun, total pertumbuhan pekerjaan sepanjang 2025 direvisi turun drastis, dari 584 ribu menjadi 181 ribu, menambah tanda tanya terkait kekuatan pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan.
Pelaku pasar kini juga menantikan rilis data inflasi AS yang diperkirakan tetap moderat — sekitar 0,3 persen bulanan dan 2,7 persen tahunan. Data inflasi ini dianggap kunci dalam menentukan sikap The Fed terhadap lanjutan kebijakan moneter.
Sentimen Domestik dan Tantangan di Dalam Negeri
Namun tekanan tidak hanya datang dari luar. Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati fundamental ekonomi Indonesia dan ruang fiskal pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang masih menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi dinilai rentan terhadap tekanan inflasi, yang berpotensi mengikis daya beli masyarakat jika terus meningkat.
Kombinasi data global yang tidak seragam dan tantangan domestik ini membuat pergerakan rupiah diperkirakan tetap volatile dalam jangka pendek — artinya kurs bisa bergerak naik turun lebih cepat dari biasanya, tergantung sentimen pasar dan rilis data berikutnya.
Bagi pelaku ekonomi, investor ritel, dan masyarakat umum, dinamika nilai tukar ini memiliki implikasi nyata: dari harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga ketidakpastian fluktuasi harga kebutuhan pokok yang sebagian komponennya bergantung pada kurs dolar.

