Dijuluki "Jenderal Baut”, KSAD Maruli Tegas Bela Proyek Sumur Air Bersih TNI AD
![]() |
| Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. |
Maruli menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik disampaikan dengan pemahaman yang utuh terhadap kondisi di lapangan, terutama dalam situasi darurat bencana.
“Marilah kita bersama-sama yah, jangan semua merasa mengoreksi terus yah. Enggak apa-apa kritik bagus supaya kami juga mengevaluasi tapi memberi kesan bahwa dia ngerti kita buat salahnya banyak yah enggak gitu-gitu juga yah,” ujar Maruli.
Gaya kepemimpinan Maruli yang kerap turun langsung ke lapangan bahkan membuatnya mendapat julukan sinis. Namun, ia justru menjadikan hal itu sebagai penegasan bahwa proyek tersebut bukan sekadar perencanaan di atas kertas.
“Saya dibilangnya Jenderal Baut katanya. Saya tuh yang merencanakan dari satuan-satuan pindah ke sini naik kapal geser ke sana geser ke titiknya kita pasang sampai jadi digunakan masyarakat,” kata Maruli.
Menurut KSAD, sumur air bersih yang dibangun TNI AD bukanlah sumur biasa. Dengan kedalaman mencapai 100 hingga 200 meter, fasilitas tersebut dirancang untuk menjangkau sumber air yang stabil agar bisa dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kalau kita tidak menemukan mata airnya, air itu pasti akan habis,” kata Maruli saat jumpa pers di Dermaga Satuan Angkutan Perairan (Satangair) TNI AD, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026).
Ia juga membandingkan secara gamblang perbedaan antara sumur rumah tangga dan sumur yang dibangun untuk kepentingan publik di wilayah terdampak bencana.
“Rumah saya di Bandung mungkin enggak sampai Rp10 juta jadi tuh (sumur) air, hanya untuk kepentingan satu keluarga. Ini barang kepentingannya kan satu desa kadang-kadang,” jelas dia.
Maruli menekankan bahwa pembangunan fasilitas tersebut melibatkan dirinya secara langsung, mulai dari tahap perencanaan hingga pemasangan di lapangan bersama prajurit TNI AD.
“Saya yang merencanakan semua itu. Saya beli ARMCO di sini, gotong-gotong naik ke sini ya. Sampai di sana geser ke jembatan saya pasang anggota-anggota semua itu jungkir balik ya,” ungkapnya.
Pendekatan turun langsung ini, menurut Maruli, merupakan bentuk tanggung jawab agar setiap bantuan negara benar-benar berfungsi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang terdampak bencana.
“Jadi saya enggak pernah punya beban. Silakan aja bicara apa ya. Yang penting saya yakin apa yang kami kerjakan angkatan darat itu dirasakan masyarakat langsung yang bencana dibandingkan orang-orang yang bicara itu,” tegas Maruli.
Sebelumnya, dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang pada Kamis (1/1/2026), Maruli bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan bahwa biaya pengeboran sumur dengan kedalaman 100–200 meter memang berada di kisaran Rp100 juta hingga Rp150 juta.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa proyek sumur air bersih TNI AD dirancang bukan sekadar sebagai solusi cepat, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat di wilayah terdampak bencana.
