PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen

Jokowi Tegaskan Siap Bekerja Total untuk PSI di Rakernas

AMANAH INDONESIA, JAKARTA -- Persaingan partai politik menuju Pemilu 2029 mulai tergambar dari hasil survei terbaru Poltracking Indonesia. 

Dalam simulasi surat suara terhadap 18 partai, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tercatat memperoleh elektabilitas 2,3 persen, sedangkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berada di angka 1,9 persen.

Selisih keduanya hanya 0,4 poin persentase. Namun, posisi tersebut memperlihatkan bahwa dalam survei yang dilakukan pada pertengahan Agustus 2026, PSI berada di atas PPP dalam simulasi pilihan partai.

Survei Poltracking dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan secara tatap muka dengan metode stratified multistage random sampling. Poltracking mencantumkan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

PSI 2,3 Persen, PPP 1,9 Persen

Dalam simulasi surat suara 18 partai, Gerindra berada pada angka 23,2 persen, disusul PDI Perjuangan 11,6 persen dan Golkar 10,4 persen.

Setelah tiga partai tersebut, Poltracking mencatat PKB memperoleh 6,2 persen, Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, dan PKS 3,3 persen.

PSI kemudian berada di angka 2,3 persen, sementara PPP memperoleh 1,9 persen.

Partai lainnya berada di bawah 1 persen. Perindo tercatat 0,6 persen, Partai Buruh 0,5 persen, Hanura 0,3 persen, sedangkan Partai Ummat, PBB, Garuda, PKN, dan Gelora masing-masing 0,1 persen.

Di luar pilihan partai tersebut, terdapat 25,3 persen responden yang menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Angka ini menjadi bagian penting dalam membaca hasil survei karena menunjukkan masih terdapat kelompok responden yang belum menentukan pilihan dalam simulasi tersebut.

Posisi PSI Masih di Bawah 5 Persen

Meski berada di atas PPP, elektabilitas PSI dalam survei tersebut masih berada pada angka 2,3 persen.

Artinya, posisi PSI dalam simulasi Poltracking masih berada di bawah sejumlah partai yang memperoleh elektabilitas lebih tinggi, termasuk partai-partai yang berada di atas 5 persen.

Karena itu, selisih 0,4 poin dengan PPP sebaiknya dibaca sebagai gambaran posisi kedua partai dalam survei tersebut, bukan sebagai kepastian mengenai peta suara pada Pemilu 2029.

Poltracking sendiri menegaskan bahwa temuannya merupakan potret survei yang dilakukan pada pertengahan Agustus 2026. Persepsi publik masih dapat berubah bergantung pada isu dan langkah strategis yang dilakukan masing-masing partai politik.

PSI Punya Target Besar untuk Pemilu 2029

Hasil survei tersebut muncul ketika PSI tengah membangun agenda politik menuju Pemilu 2029.

Ketua Dewan Pembina PSI, Joko Widodo, sebelumnya menyampaikan bahwa target partainya tidak hanya berkaitan dengan upaya masuk ke DPR.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi ketika menghadiri Rakorda DPD PSI Kota Kupang pada 31 Juli 2026.

Saat itu, Jokowi mengatakan PSI memiliki target yang lebih besar, tetapi belum mengungkapkan target tersebut secara terbuka.

Menurut Jokowi, pembangunan struktur organisasi hingga tingkat desa menjadi bagian penting bagi PSI. Kekuatan partai, menurut dia, tidak hanya berkaitan dengan jumlah kursi yang diperoleh di parlemen, tetapi juga kemampuan membangun struktur sampai tingkat bawah.

“Target kita bukan hanya target masuk Senayan. Tapi ada target besar yang pingin kita capai.”

Pernyataan tersebut memberi konteks terhadap posisi PSI dalam survei terbaru: angka 2,3 persen menjadi salah satu gambaran mengenai dukungan elektoral partai saat ini, sementara PSI masih memiliki waktu untuk membangun struktur dan memperluas basis dukungan sebelum Pemilu 2029.

PPP Masih Berada di Bawah PSI dalam Simulasi

Bagi PPP, angka 1,9 persen dalam survei yang sama menunjukkan posisi partai tersebut berada sedikit di bawah PSI.

Selisihnya memang tipis, hanya 0,4 poin persentase. Karena itu, angka tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya perubahan permanen dalam peta dukungan kedua partai.

Hasil survei merupakan pengukuran terhadap responden pada periode tertentu. Perubahan isu, aktivitas partai, figur yang diusung, maupun dinamika politik berikutnya dapat memengaruhi pilihan pemilih.

Terlebih, masih ada 25,3 persen responden yang belum memberikan pilihan atau tidak menjawab dalam simulasi tersebut.

Survei Belum Menggambarkan Hasil Pemilu 2029

Poltracking menggunakan 1.220 responden yang tersebar di 38 provinsi. Sampel dipilih dengan metode stratified multistage random sampling, sedangkan wawancara dilakukan secara tatap muka.

Dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, hasil tersebut merupakan pengukuran opini publik pada periode 14–20 Agustus 2026, bukan hasil pemilu.

Karena itu, posisi PSI 2,3 persen dan PPP 1,9 persen lebih tepat dipahami sebagai potret preferensi responden dalam survei tersebut.

Poltracking juga menyatakan persepsi publik masih berpotensi berubah seiring perkembangan isu dan strategi politik masing-masing partai.

Bagi PSI, hasil tersebut menunjukkan partai berada pada angka 2,3 persen dalam simulasi surat suara terbaru. Bagi PPP, angka 1,9 persen menunjukkan posisi partai dalam survei yang sama.

Sementara itu, besarnya kelompok yang belum menentukan pilihan menunjukkan bahwa peta elektoral menuju Pemilu 2029 masih dapat mengalami perubahan dalam perjalanan politik berikutnya.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen
  • PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen
  • PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen
  • PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen
  • PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen
  • PSI Ungguli PPP di Survei Poltracking, Selisih 0,4 Persen