Sepakan Jarak Jauh Gali Freitas Pastikan Persebaya Taklukkan PSM
![]() |
| Gali Freitas |
AMANAH INDONESIA, SURABAYA -- Tekanan sempat terasa di tribun sebelum bola benar-benar bersarang di gawang. Publik Surabaya menunggu momen yang bisa memecah kebuntuan—dan ketika sepakan jarak jauh itu meluncur mulus, stadion seolah meledak dalam satu tarikan napas yang sama. Bagi Persebaya, gol tersebut bukan hanya angka di papan skor, melainkan jawaban atas tuntutan konsistensi.
Dalam lanjutan BRI Super League musim 2025/2026, Persebaya Surabaya mengamankan kemenangan 1-0 atas PSM Makassar di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2/2026) malam WIB. Paulo Gali Freitas menjadi pembeda lewat gol tunggalnya pada babak pertama.
Satu Momen yang Mengubah Arah Laga
Sejak awal pertandingan, Persebaya tampil lebih proaktif. Penguasaan bola dijaga, ritme diatur, dan tekanan dibangun perlahan. PSM memilih pendekatan berbeda—menutup ruang dan mengandalkan transisi cepat.
Kebuntuan akhirnya terpecah menjelang menit ke-30. Dari luar kotak penalti, Gali melepaskan tembakan keras yang tak mampu dijangkau Reza Arya. Gol itu mengubah suasana pertandingan. Persebaya tak hanya unggul skor, tetapi juga kepercayaan diri.
Babak Kedua: Ujian Konsistensi
PSM mencoba merespons selepas jeda. Intensitas dinaikkan, pergantian pemain dilakukan untuk menambah daya dobrak. Bola-bola silang dan situasi bola mati mulai diarahkan ke pertahanan tuan rumah.
Namun koordinasi lini belakang Persebaya tampil disiplin. Ernando Ari sigap membaca arah serangan, sementara barisan bek menjaga jarak antarlini tetap rapat. Tekanan ada, tetapi peluang bersih sulit tercipta.
Di sisi lain, Persebaya tetap mencari celah lewat serangan balik. Peluang tambahan sempat terbuka di masa injury time, meski tak berujung gol.
Stabilitas yang Mulai Terlihat
Skor 1-0 memang tipis. Namun dalam persaingan panjang kompetisi, kemenangan seperti ini sering kali lebih bernilai daripada pesta gol. Persebaya menunjukkan kematangan dalam mengelola tempo dan mempertahankan keunggulan.
Bagi PSM, hasil ini menjadi pengingat bahwa penguasaan bola dan intensitas belum tentu cukup tanpa ketajaman penyelesaian akhir.
Kompetisi masih menyisakan banyak laga. Tetapi malam di Gelora Bung Tomo memberi sinyal bahwa Persebaya mulai menemukan stabilitas—sementara PSM dituntut segera memperbaiki efektivitas agar tak tertinggal dalam perebutan posisi klasemen.



