Denny JA: Kerusuhan Agustus 2025 dan Lahirnya Teori Baru tentang Kemarahan di Era Algoritma
![]() |
| Denny JA |
Dalam refleksinya, Denny JA menilai teori-teori sosial klasik belum sepenuhnya mampu menjelaskan dinamika baru yang melibatkan algoritma, media sosial, dan kelompok pekerja digital yang rentan.
Ketika Satu Peristiwa Mengubah Percakapan Nasional
Kematian seorang warga biasa dapat menjadi peristiwa yang melampaui tragedi personal ketika ia berubah menjadi simbol yang menyatukan keresahan publik.
Itulah yang terjadi setelah Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, meninggal di tengah kekacauan yang mewarnai Jakarta pada Agustus 2025.
Dalam hitungan jam, rekaman yang memperlihatkan tubuh Affan tergeletak di jalan menyebar luas melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Reaksi publik berkembang cepat. Demonstrasi muncul di berbagai daerah, sebagian berlangsung damai, sebagian berujung bentrokan yang menyebabkan kerusakan fasilitas publik dan korban jiwa.
Peristiwa itu memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar kronologi kerusuhan: mengapa kematian satu orang mampu memicu gelombang kemarahan berskala nasional?
Bagi Denny JA, pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab melalui pendekatan politik konvensional. Ia melihat Agustus 2025 sebagai gejala perubahan sosial yang lebih mendasar, yakni perubahan cara masyarakat membangun solidaritas, menyebarkan emosi, dan memobilisasi aksi kolektif di era digital.
Mengapa Teori Lama Dinilai Belum Cukup?
Dalam esainya, Denny JA meninjau tiga teori besar yang selama puluhan tahun menjadi rujukan utama dalam memahami konflik sosial dan gerakan massa.
Teori pertama adalah Relative Deprivation yang diperkenalkan Ted Robert Gurr melalui buku Why Men Rebel pada 1970. Teori ini menjelaskan bahwa pemberontakan muncul ketika terdapat jarak antara harapan masyarakat dan kenyataan yang mereka hadapi. Ketika warga merasa berhak memperoleh kehidupan yang lebih baik tetapi tidak mendapatkannya, frustrasi dapat berkembang menjadi kemarahan kolektif.
Pendekatan tersebut dinilai masih relevan untuk menjelaskan rasa ketidakadilan yang dirasakan masyarakat. Namun, teori itu lahir jauh sebelum media sosial dan algoritma menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menurut Denny JA, teori ini mampu menjelaskan sumber api kemarahan, tetapi belum menjelaskan bagaimana api tersebut menyebar begitu cepat melalui ruang digital.
Teori kedua adalah Resource Mobilization Theory yang dikembangkan John McCarthy dan Mayer Zald. Pendekatan ini menekankan pentingnya organisasi, sumber daya, kepemimpinan, dan jaringan dalam keberhasilan sebuah gerakan sosial.
Masalahnya, kerusuhan Agustus 2025 menunjukkan bahwa ribuan orang dapat bergerak tanpa struktur organisasi formal. Tidak ada kantor pusat, ketua umum, maupun hierarki yang jelas, tetapi mobilisasi tetap berlangsung secara serentak.
Teori ketiga adalah Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan Manuel Castells dan Zeynep Tufekci. Teori ini menjelaskan bagaimana internet dan media sosial memungkinkan kemarahan menyebar dalam skala besar.
Meski paling dekat dengan realitas digital, Denny JA menilai teori tersebut masih menyisakan ruang kosong. Teori jaringan mampu menjelaskan bagaimana protes menyebar, tetapi belum cukup menjelaskan mengapa kelompok tertentu lebih mudah terdorong ke dalam ledakan kemarahan dibanding kelompok lainnya.
Siapa Kelompok yang Paling Rentan di Era Digital?
Dari pengamatannya terhadap perkembangan ekonomi digital, Denny JA mengajukan konsep baru yang disebut Digitally Vulnerable Class (DVC) atau kelas rentan digital.
Kelompok ini mencakup pengemudi ojek online, kurir, pekerja platform digital, freelancer, kreator konten skala kecil, dan berbagai pekerja informal yang menggantungkan pendapatan pada sistem berbasis aplikasi.
Menurutnya, kelompok tersebut menghadapi tiga lapis kerentanan sekaligus.
Pertama, kerentanan ekonomi akibat pendapatan yang tidak selalu stabil.
Kedua, kerentanan algoritmik karena penghasilan mereka sangat dipengaruhi keputusan sistem digital yang tidak selalu transparan.
Ketiga, kerentanan harapan, yakni kondisi ketika ekspektasi terhadap masa depan meningkat tetapi peluang yang tersedia terasa semakin terbatas.
Dalam kerangka ini, kelas rentan digital dipandang sebagai aktor sosial baru yang memiliki posisi penting dalam dinamika konflik sosial abad ke-21.
Apa Saja Unsur dalam Teori Kerusuhan Era Digital?
Untuk menjelaskan peristiwa Agustus 2025, Denny JA mengusulkan sebuah kerangka yang ia sebut Teori Kerusuhan Era Digital.
Teori tersebut dibangun di atas lima variabel utama.
Variabel pertama adalah Economic Grievance atau keresahan ekonomi. Faktor ini mencakup tekanan biaya hidup, melemahnya daya beli, keterbatasan lapangan kerja, dan ketidakpastian masa depan.
Variabel kedua adalah Digitally Vulnerable Class, yakni kelompok pekerja digital yang hidup dalam kondisi rentan secara ekonomi maupun algoritmik.
Variabel ketiga adalah Social Media Amplification. Dalam pandangan ini, media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif yang mampu mengubah keluhan lokal menjadi isu nasional dalam waktu singkat.
Variabel keempat adalah Trigger and Provocation. Sebuah kemarahan kolektif memerlukan simbol pemicu. Dalam kasus Agustus 2025, Affan Kurniawan diposisikan sebagai simbol yang mempersatukan kemarahan publik. Setelah pemicu muncul, provokasi dan disinformasi dapat mempercepat eskalasi situasi.
Variabel kelima adalah Broken Social Contract, yaitu kondisi ketika sebagian masyarakat merasa negara tidak lagi memenuhi janji dasar berupa perlindungan, keadilan, kesempatan, dan saluran aspirasi yang efektif.
Denny JA merumuskan hubungan kelima unsur tersebut dalam satu persamaan:
“Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract.”
Ia menegaskan, “Masing-masing benar. Namun masing-masing hanya menjelaskan sebagian gambar.”
Menurutnya, teori baru diperlukan karena fenomena sosial digital tidak lagi dapat dipahami melalui satu variabel tunggal.
Bagaimana Peran Algoritma dalam Membentuk Kemarahan Kolektif?
Salah satu gagasan utama yang muncul dalam esai ini adalah perubahan peran teknologi dalam kehidupan sosial.
Jika pada masa lalu organisasi politik menjadi mesin utama mobilisasi massa, Denny JA melihat bahwa algoritma kini memainkan fungsi yang semakin besar.
“Saya melihat algoritma mengambil peran yang sebelumnya dimainkan oleh organisasi politik. Saya melihat notifikasi menggantikan pamflet revolusi,” tulisnya.
Pandangan tersebut menggambarkan bagaimana distribusi informasi yang sangat cepat dapat memperpendek jarak antara peristiwa, emosi, dan tindakan kolektif.
Video berdurasi singkat, yang dahulu mungkin hanya menjadi dokumentasi lokal, kini dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu bersamaan dan membentuk persepsi publik secara luas.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Pembuat Kebijakan?
Jika teori ini memiliki daya jelaskan yang kuat, implikasinya tidak hanya berlaku bagi Indonesia.
Menurut Denny JA, pola yang sama berpotensi muncul di berbagai negara ketika tekanan ekonomi, kelompok pekerja digital yang rentan, dan amplifikasi algoritma bertemu dalam satu momentum yang sama.
Bagi pembuat kebijakan, fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas sosial tidak cukup dijaga melalui pendekatan keamanan semata. Persoalan ekonomi, kepercayaan publik, akses peluang, dan tata kelola ruang digital menjadi bagian dari persoalan yang saling terhubung.
Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi tantangan baru berupa penyebaran emosi kolektif yang bergerak jauh lebih cepat daripada proses verifikasi informasi.
Apa yang Mungkin Terjadi Selanjutnya?
Denny JA memandang kerusuhan Agustus 2025 sebagai tanda perubahan zaman, bukan sekadar insiden politik sesaat.
Ia menilai ilmu sosial akan menghadapi tuntutan untuk memperbarui cara membaca masyarakat yang hidup di bawah pengaruh algoritma, bekerja dalam ekonomi digital yang fleksibel namun rentan, serta membangun solidaritas melalui jaringan daring yang bergerak nyaris tanpa batas geografis.
Perdebatan mengenai validitas Teori Kerusuhan Era Digital tentu masih terbuka. Seperti teori-teori besar sebelumnya, gagasan tersebut akan diuji melalui penelitian, kritik akademik, dan berbagai peristiwa yang mungkin muncul pada masa mendatang.
Yang jelas, perkembangan teknologi telah mengubah cara kemarahan terbentuk, menyebar, dan memengaruhi kehidupan publik. Tantangan berikutnya bukan hanya memahami bagaimana kerusuhan terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat dan negara dapat mencegah akumulasi keresahan yang membuat ledakan sosial menjadi semakin mudah terjadi di era algoritma.
REFERENSI
1. Why Men Rebel. Ted Robert Gurr. Princeton University Press. 1970.
2. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Manuel Castells. Polity Press. 2012.
3. Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. Zeynep Tufekci. Yale University Press. 2017.
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

