China Desak NATO Evaluasi Perannya, Ketegangan Diplomatik Kembali Mengemuka soal Ukraina
![]() |
| Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian |
Perang yang berlangsung di Ukraina tidak hanya berdampak pada kawasan Eropa Timur, tetapi juga terus memengaruhi hubungan antarnegara besar di panggung internasional.
Dalam perkembangan terbaru, China dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) kembali terlibat saling kritik terkait posisi Beijing dalam konflik yang melibatkan Rusia dan Ukraina.
Pemerintah China menilai NATO perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap perannya dalam menjaga perdamaian dunia, menyusul pernyataan Sekretaris Jenderal NATO yang menyoroti hubungan China dengan Rusia.
Polemik tersebut memperlihatkan bahwa perang Ukraina telah berkembang menjadi isu yang lebih luas, mencakup persaingan pengaruh, keamanan internasional, dan arah tata kelola global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menilai NATO masih membawa cara pandang yang dipengaruhi warisan Perang Dingin.
Menurutnya, aliansi militer tersebut perlu meninjau kembali dampak kebijakan dan langkah-langkah yang telah diambil terhadap stabilitas internasional.
"NATO perlu mengatasi persepsi yang salah tentang China dan berhenti memicu konfrontasi dan mengalihkan kesalahan," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (18/6).
Ia juga menegaskan bahwa NATO perlu melakukan refleksi mengenai kontribusi maupun dampaknya terhadap situasi keamanan global saat ini.
"Sebagai peninggalan dari Perang Dingin, NATO perlu merenungkan secara serius peran apa yang telah dimainkannya dan dampaknya terhadap perdamaian dan stabilitas di dunia saat ini," ujar Lin.
Pernyataan China muncul setelah Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyampaikan bahwa aliansinya terus memantau aktivitas China yang berkaitan dengan Rusia.
Rutte mengatakan NATO memperhatikan berbagai laporan mengenai dugaan dukungan Beijing terhadap Moskow, termasuk isu penghindaran sanksi internasional dan penggunaan barang-barang yang memiliki fungsi sipil sekaligus militer atau barang dwiguna.
"Mengenai China, yang kami ketahui, tentu saja adalah upaya pengelakan sanksi, barang-barang ganda, dan sebagainya. Kami tidak naif. Kami mengikuti semuanya dengan cermat," kata Rutte kepada wartawan pada Rabu (17/6).
Pernyataan tersebut menambah daftar panjang perbedaan pandangan antara NATO dan China sejak konflik Rusia-Ukraina pecah.
Beijing kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam penyediaan senjata mematikan kepada pihak-pihak yang berperang.
Lin Jian menyatakan China tetap mempertahankan posisi yang disebutnya objektif dan adil dalam menyikapi konflik tersebut.
"Beijing tidak memberikan senjata mematikan kepada pihak mana pun yang berkonflik dan telah memberlakukan kontrol ketat atas barang-barang dwiguna," ujarnya.
Menurut China, fokus utama yang terus didorong adalah penghentian permusuhan serta pembukaan ruang dialog dan perundingan damai antara pihak-pihak yang bertikai.
Posisi tersebut selama ini menjadi bagian dari diplomasi Beijing yang berupaya menampilkan diri sebagai mediator dan pendukung penyelesaian konflik melalui jalur politik.
Perbedaan pandangan antara NATO dan China tidak hanya menyangkut perang Ukraina, tetapi juga mencerminkan persaingan yang lebih luas mengenai arsitektur keamanan global.
NATO memandang stabilitas Eropa dan keamanan internasional harus dijaga melalui penguatan aliansi dan pengawasan terhadap negara-negara yang dianggap mendukung Rusia.
Sebaliknya, China menilai pendekatan tersebut berpotensi memperdalam polarisasi global dan memperbesar risiko konfrontasi antarblok.
Perdebatan ini menjadi penting karena melibatkan dua kekuatan berpengaruh yang memiliki dampak besar terhadap perdagangan internasional, keamanan regional, serta keseimbangan geopolitik dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik tersebut, China juga bersiap menghadiri pertemuan ke-16 para penasihat keamanan nasional dan perwakilan tinggi keamanan nasional negara-negara BRICS yang akan berlangsung di New Delhi, India, pada 22-23 Juni.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dijadwalkan hadir dalam forum tersebut.
Dalam pertemuan itu, negara-negara anggota BRICS akan membahas berbagai isu keamanan internasional, tantangan regional, serta langkah menghadapi ancaman keamanan konvensional maupun non-konvensional.
Pemerintah China menyebut BRICS berkomitmen mendukung perdamaian dunia, pembangunan bersama, dan tata kelola global yang lebih adil di tengah situasi internasional yang semakin kompleks.
Hubungan antara NATO dan China diperkirakan akan terus menjadi salah satu isu penting dalam politik internasional.
Selama perang Ukraina masih berlangsung dan hubungan Rusia dengan negara-negara Barat tetap tegang, posisi Beijing kemungkinan akan terus menjadi perhatian aliansi pertahanan Barat.
Di sisi lain, China tampaknya akan terus mempertahankan narasi bahwa solusi konflik harus ditempuh melalui diplomasi dan dialog, sambil memperkuat kerja sama dengan negara-negara berkembang melalui forum seperti BRICS.
Perdebatan terbaru antara China dan NATO menunjukkan bahwa perang Ukraina tidak lagi sekadar konflik regional, melainkan telah menjadi bagian dari persaingan geopolitik global yang lebih luas.
Tantangan terbesar bagi komunitas internasional ke depan adalah menjaga agar perbedaan kepentingan antarnegara besar tidak berkembang menjadi konfrontasi yang dapat mengganggu stabilitas dunia dan menghambat upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

