Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa

ILUSTRASI. Rupiah dan dollar
AMANAH INDONESIA, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan ini. Bagi pelaku usaha maupun masyarakat, pergerakan kecil di pasar valuta asing seperti ini sering kali menjadi sinyal awal dari dinamika ekonomi yang lebih luas—terutama ketika dipicu faktor global.

Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar AS. Meski penurunannya tidak besar, arah pergerakan ini langsung dikaitkan dengan situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Global

Rupiah tercatat turun 11 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp17.405 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.394.

Analis mata uang Lukman Leong menyebut pelemahan ini tidak lepas dari penguatan dolar AS yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, kondisi global saat ini membuat investor cenderung mengalihkan aset ke dolar yang dianggap lebih aman.

Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasar

Fakta di lapangan menunjukkan situasi yang semakin kompleks.

Laporan terbaru menyebut adanya serangan drone yang memicu kebakaran di fasilitas minyak di Uni Emirat Arab. Meski Iran membantah keterlibatan, ketegangan tetap meningkat.

Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat meluncurkan operasi militer untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz—salah satu jalur energi paling vital dunia.

Operasi tersebut melibatkan:

  • kapal perusak rudal berpemandu,
  • lebih dari 100 pesawat militer,
  • sistem nirawak,
  • serta ribuan personel militer.

Di sisi lain, muncul laporan bahwa Iran merespons dengan aktivitas militer di kawasan yang sama.

Kombinasi faktor ini membuat pasar global cenderung berhati-hati.

Kenapa Rupiah Ikut Terdampak?

Fakta: rupiah melemah seiring penguatan dolar.

Interpretasi: investor global sedang menghindari risiko.

Dalam kondisi ketidakpastian, aset seperti dolar AS biasanya menjadi tujuan utama. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

Namun pelemahan kali ini masih tergolong terbatas. Artinya, pasar belum melihat situasi sebagai krisis besar—lebih sebagai fase waspada.

Pasar Menunggu Sinyal dari Dalam Negeri

Selain faktor global, pelaku pasar juga menanti sentimen domestik.

Data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I 2026 menjadi salah satu indikator yang dinunggu untuk menentukan arah berikutnya.

Jika data ekonomi domestik menunjukkan ketahanan, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.

Rupiah Masih dalam Rentang Terkendali

Untuk jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.450 per dolar AS.

Rentang ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan eksternal, pergerakan rupiah masih relatif stabil dan belum keluar dari batas wajar.

Namun situasi global yang cepat berubah membuat arah selanjutnya tetap sulit diprediksi.

Di tengah ketegangan geopolitik dan dinamika pasar global, pergerakan rupiah kini tidak hanya ditentukan oleh faktor dalam negeri—tetapi juga oleh bagaimana dunia merespons konflik yang terus berkembang di luar sana.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa
  • Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa
  • Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa
  • Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa
  • Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa
  • Rupiah Makin Tertekan, Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasa