Jangan Asal Buka Kafe! Praktisi HR Bongkar Realita Bisnis Coffee Shop
![]() |
| ILUSTRASI. Kafe |
AMANAH INDONESIA, JAKARTA – Bisnis kafe terlihat menarik dari luar. Interior estetik, kopi kekinian, ramai anak muda, hingga tren work from cafe membuat banyak orang tergoda membuka coffee shop sendiri.
Namun di balik tampilannya yang terlihat santai, bisnis kuliner terutama kafe ternyata menyimpan tantangan yang jauh lebih berat daripada yang dibayangkan.
Hal itu diungkapkan oleh praktisi HR sekaligus pengelola kafe, Sony Tan, dalam perbincangan panjang bersama Helmy Yahya. Ia bahkan menulis buku dengan judul provokatif: “Jangan Buka Kafe Sebelum Baca Buku Ini.”
Bisnis Kafe Bukan Sekadar Jual Kopi
Banyak orang mengira bisnis kafe hanya soal membuat kopi enak dan menyediakan tempat nyaman. Padahal menurut Sony, mengelola kafe sebenarnya adalah mengelola manusia.
Ia menjelaskan bahwa dua tahun pertama menjalankan kafe menjadi fase paling berat. Banyak pemilik usaha gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak siap menghadapi persoalan operasional dan sumber daya manusia.
“Mengelola kafe adalah mengelola orang,” ujarnya.
Masalah terbesar yang sering muncul adalah tingginya turnover karyawan. Dalam industri kafe, pergantian pegawai bisa mencapai lebih dari 100 persen per tahun. Artinya, seluruh staf bisa berganti dalam waktu satu tahun.
Kondisi ini membuat bisnis sulit menjaga kualitas pelayanan dan konsistensi produk.
Margin Bisnis Kafe Ternyata Sangat Tipis
Banyak orang mengira keuntungan bisnis kopi sangat besar karena harga jual minuman terlihat jauh lebih mahal dibanding bahan bakunya. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sony menjelaskan bahwa biaya terbesar bisnis kafe justru ada pada fixed cost atau biaya tetap seperti:
- sewa tempat,
- listrik,
- gaji pegawai,
- maintenance,
- interior,
- dan depresiasi mesin.
Menurutnya, fixed cost bisa mencapai sekitar 60 persen dari keseluruhan pengeluaran bisnis kuliner. Karena itu banyak kafe yang ramai tetapi tetap kesulitan bertahan.
Ia menyebut rata-rata margin keuntungan bisnis restoran dan kafe hanya sekitar 8 hingga 10 persen.
Banyak Kafe Tutup dalam Dua Tahun Pertama
Fenomena kafe buka lalu tutup dalam waktu singkat kini semakin sering terlihat. Sony menyebut banyak pemilik usaha terlalu fokus pada desain interior dan viral di media sosial, tetapi melupakan fundamental bisnis.
Ia menilai banyak pebisnis baru terlalu percaya bahwa teman-teman mereka akan menjadi pelanggan tetap. Padahal kenyataannya, teman bukanlah market utama.
“Teman itu bukan market,” katanya.
Selain itu, mengejar viral tanpa kesiapan operasional juga dianggap berbahaya. Ketika sebuah kafe tiba-tiba ramai karena viral, kapasitas dapur dan pelayanan sering tidak siap.
Akibatnya pelanggan kecewa dan memberikan ulasan buruk yang sulit diperbaiki.
Kunci Bertahan Ada pada Repeat Customer
Menurut Sony, pelanggan yang datang kembali jauh lebih penting dibanding sekadar ramai sesaat karena media sosial.
Ia menegaskan bahwa interior bagus hanya mampu mendatangkan pelanggan pertama. Namun yang membuat pelanggan kembali adalah kualitas makanan dan minuman.
“Tempat bagus bisa mendatangkan orang, tapi makanan dan minuman enak yang membuat mereka kembali,” jelasnya.
Karena itu konsistensi rasa menjadi faktor utama dalam bisnis kuliner.
Jangan Terlalu Besar di Awal
Salah satu kesalahan umum pebisnis pemula adalah langsung mengeluarkan modal besar untuk interior mewah dan peralatan mahal.
Sony justru menyarankan memulai bisnis secara kecil terlebih dahulu sambil memahami ritme operasional dan perilaku pasar. Ia menyarankan konsep start with small agar risiko kerugian bisa ditekan.
Menurutnya, bisnis dengan fixed cost besar memiliki risiko kegagalan lebih tinggi.
Ia bahkan menyebut bisnis online saat ini jauh lebih aman untuk pemula karena biaya operasional lebih rendah dibanding membuka kafe fisik.
Karyawan Adalah Aset Utama
Dalam pengalamannya mengelola kafe, Sony lebih memilih memberikan kenyamanan kerja kepada pegawai dibanding sekadar mengejar efisiensi ekstrem.
Ia menyediakan:
- tempat tinggal,
- makan siang dan malam,
- jam kerja lebih manusiawi,
- serta hari libur tambahan.
Tujuannya agar pegawai tidak kelelahan dan tetap mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
Menurutnya, pegawai yang dihargai akan menjaga bisnis dengan lebih baik
Strategi Hemat yang Jarang Dipikirkan
Selain soal SDM, Sony juga menekankan pentingnya efisiensi biaya kecil yang sering diabaikan pemilik kafe.
Salah satunya penggunaan mesin reverse osmosis (RO) untuk kebutuhan air minum dan kopi. Dengan sistem itu, biaya air bisa ditekan jauh lebih murah dibanding membeli galon setiap hari.
Ia percaya bisnis kafe hanya bisa bertahan jika pemilik benar-benar disiplin menjaga cash flow.
Bisnis Kafe Butuh Kehadiran Pemilik
Sony juga menolak anggapan bahwa bisnis kafe bisa langsung berjalan otomatis sejak awal. Menurutnya, pemilik usaha harus turun langsung terutama di fase awal.
Ia mengaku hampir setiap hari berada di kafenya untuk memastikan kualitas tetap terjaga sekaligus membangun semangat tim.
Karena itu ia menilai bisnis kuliner kurang cocok bagi orang yang tidak memiliki waktu untuk terlibat langsung.
Bisnis kafe memang terlihat menarik, tetapi realitanya penuh tantangan. Persaingan ketat, margin tipis, biaya operasional tinggi, dan masalah SDM membuat banyak usaha kuliner gagal bertahan.
Karena itu sebelum membuka coffee shop, calon pebisnis perlu memahami bahwa sukses di industri ini bukan hanya soal kopi enak atau tempat estetik, tetapi juga kemampuan mengelola manusia, menjaga cash flow, dan membangun konsistensi jangka panjang.

