Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa

Video viral jambret yang gagal beraksi dan malah menelepon polisi saat dikejar warga (Instagram @luthfie.daily)

AMANAH INDONESIA -- Teriakan warga memecah gang sempit itu. Seorang pria berlari tanpa arah, napasnya tersengal, sementara langkah-langkah di belakangnya kian mendekat. Detik berikutnya, ia terpojok. Bukan hanya gagal membawa hasil, ia juga tak lagi punya jalan keluar.

Yang membuat publik tertegun bukan sekadar aksi kejar-kejarannya. Melainkan keputusan tak terduga: pria yang diduga pelaku jambret itu justru meminta tolong kepada polisi karena takut menjadi sasaran amuk massa.

Apa yang Terjadi dalam Video yang Viral Itu?

Rekaman yang diunggah akun Instagram @luthfie.daily pada Sabtu (14/2/2026) memperlihatkan seorang terduga pelaku penjambretan diamankan setelah aksinya dipergoki warga. Dalam video tersebut, ia terlihat berada di sebuah gang buntu, sementara suasana sekitar masih tegang.

Menurut pengakuannya dalam video, ia telah tiga kali melakukan penjambretan dengan target perempuan. Ia menyebut beraksi bersama tiga orang lainnya, sehingga total komplotan berjumlah empat orang. Pada percobaan terakhir, dua rekannya berhasil kabur, sementara dirinya tertangkap.

Dalam kondisi panik, ia mengaku sempat bertemu pasangan suami istri di ujung gang dan meminta mereka menghubungi polisi. Alasannya sederhana: takut dikeroyok warga.

Ketika Pelaku Meminta Perlindungan

Bagian inilah yang membuat video tersebut cepat menyebar. Di tengah amarah warga, pelaku justru memilih meminta perlindungan aparat.

Dalam rekaman terdengar petugas yang memeriksa pelaku menegur dengan nada menyindir, mempertanyakan mengapa ia baru mengingat polisi ketika dalam bahaya, bukan sebelum melakukan kejahatan.

Secara hukum, tindakan polisi mengamankan terduga pelaku dari potensi amuk massa memang merupakan bagian dari prosedur. Aparat berkewajiban memastikan proses hukum berjalan tanpa kekerasan di luar ketentuan.

Di sisi lain, situasi tersebut juga memperlihatkan dinamika emosi di lapangan: warga yang kesal karena aksi kriminal, dan pelaku yang mendadak bergantung pada sistem yang sebelumnya ia langgar.

Motif dan Imbalan yang Diungkap

Dalam video itu, pelaku menyebut menerima bagian sekitar Rp500 ribu setiap kali aksi berhasil. Nominal tersebut dibagi dari hasil yang diperoleh komplotan.

Pengakuan itu memperlihatkan bahwa penjambretan dilakukan secara terorganisasi, bukan aksi spontan. Meski nominalnya tidak besar, risikonya tinggi—baik bagi korban maupun pelaku sendiri.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kejahatan jalanan kerap melibatkan jaringan kecil dengan pembagian peran tertentu.

Reaksi Publik: Ironi dan Kekhawatiran

Warganet merespons beragam. Ada yang menyebut kejadian itu ironis dan “kocak” karena pelaku justru mencari perlindungan setelah gagal beraksi. Ada pula yang menyoroti pentingnya aparat mencegah tindakan main hakim sendiri.

Di tengah komentar bernada satire, isu yang lebih serius tetap mengemuka: keamanan warga di ruang publik. Penjambretan masih menjadi ancaman, terutama bagi perempuan yang menjadi target empuk di jalanan sepi.

Video ini mungkin akan berlalu dari linimasa dalam hitungan hari. Namun pertanyaan yang tertinggal lebih panjang: bagaimana mencegah kejahatan serupa berulang, dan bagaimana memastikan penegakan hukum berjalan tanpa membuka ruang bagi kekerasan massa?

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa
  • Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa
  • Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa
  • Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa
  • Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa
  • Viral Video Jambret Ketakutan, Pilih Hubungi Polisi daripada Diamuk Massa