Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia

Aksa Mahmud
Aksa Mahmud

AMANAH INDONESIA, MAKASSAR -- Di tengah situasi tim yang sedang tidak ideal, ruang makan malam di kawasan Center Point of Indonesia, Makassar, berubah menjadi ruang refleksi bagi PSM Makassar. Bukan soal taktik atau susunan pemain, melainkan tentang identitas dan tanggung jawab besar yang melekat pada seragam Juku Eja.

Pemilik klub PSM Makassar, Aksa Mahmud, memilih menyampaikan pesannya secara langsung kepada para pemain, pelatih, dan ofisial. Di hadapan skuad, ia menekankan satu hal utama: menjaga nama besar PSM bukan sekadar kewajiban profesional, tetapi amanah sejarah.

Pesan tentang Sejarah yang Tak Tergantikan

Dalam pertemuan tersebut, Aksa mengingatkan bahwa PSM bukan klub biasa. Ia menyinggung status PSM sebagai klub tertua di Indonesia dan salah satu dari lima besar klub Perserikatan yang hingga kini belum pernah merasakan degradasi.

Menurut Aksa, fakta tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan identitas yang harus dijaga oleh setiap generasi pemain. Ia berharap seluruh anggota tim benar-benar memahami makna berada di PSM dan bersungguh-sungguh mempertahankan kebesaran klub.

Harapan di Tengah Lawatan Berat

Pesan tersebut disampaikan menjelang keberangkatan PSM untuk menjalani laga tandang melawan PSBS Biak di Yogyakarta. Aksa berharap perjalanan tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang menggembirakan, tidak hanya bagi tim, tetapi juga bagi pelatih, ofisial, suporter, dan masyarakat Sulawesi Selatan yang selama ini menjadikan PSM sebagai kebanggaan daerah.

Baginya, PSM bukan hanya milik pemain yang berada di lapangan, tetapi juga milik publik yang menaruh harapan dan emosi pada setiap pertandingan.

Fakta Performa yang Sedang Menurun

Di balik pesan penuh motivasi itu, kondisi tim memang tengah berada dalam fase sulit. PSM hanya mampu mengumpulkan dua poin dari tujuh pertandingan terakhir. Hasil tersebut membuat mereka terlempar ke peringkat 13 klasemen sementara dengan koleksi 20 poin.

Jarak dengan zona degradasi pun kian menipis. PSM hanya terpaut delapan poin dari Semen Padang FC yang berada di posisi 16. Situasi ini menempatkan setiap laga ke depan sebagai momen krusial, bukan hanya untuk posisi klasemen, tetapi juga untuk menjaga marwah klub.

Makna Pesan di Ruang yang Tepat

Pesan Aksa Mahmud tidak datang dalam suasana tekanan konferensi pers atau evaluasi terbuka. Ia memilih momentum makan malam bersama, sebuah pendekatan yang lebih personal dan emosional. Di saat performa menurun dan kepercayaan diri tim diuji, pesan tersebut berfungsi sebagai suntikan moral.

Bagi pemain, ini bukan sekadar pengingat target poin atau posisi klasemen, melainkan ajakan untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari sejarah panjang PSM Makassar.

Apakah pesan itu akan langsung berbuah hasil di lapangan, baru akan terjawab dalam laga-laga berikutnya. Namun satu hal jelas, PSM sedang berada di persimpangan musim—antara menjaga reputasi sebagai klub bersejarah atau terjebak dalam tekanan kompetisi modern yang semakin ketat.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia
  • Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia
  • Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia
  • Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia
  • Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia
  • Aksa Mahmud Ingatkan Pemain PSM soal Harga Diri Klub Tertua Indonesia
Tutup Iklan