Harga Emas Antam Anjlok Rp48.000, Peluang Beli Terbuka tapi Risiko Salah Timing Membesar
![]() |
| Emas Antam |
AMANAH INDONESIA, JAKARTA --- Harga emas Antam anjlok signifikan pada perdagangan Jumat, mematahkan reli tajam dua hari sebelumnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada investor emas batangan, pembeli ritel, serta masyarakat yang berencana menjual emas dalam waktu dekat.
Penurunan harga membuka peluang beli, namun juga meningkatkan risiko salah timing di tengah volatilitas pasar emas global.
Harga emas Antam terbaru yang dipantau di laman resmi Logam Mulia pada Jumat (30/1/2026) turun Rp48.000 menjadi Rp3.120.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp3.168.000 per gram.
Sejalan dengan itu, harga jual kembali atau buyback juga melemah Rp50.000 ke level Rp2.939.000 per gram. Koreksi ini terjadi setelah emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi dalam dua hari terakhir.
Dalam setiap transaksi, emas batangan tetap dikenakan ketentuan pajak sesuai PMK Nomor 34/PMK.10/2017. Penjualan emas di atas Rp10 juta dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemilik NPWP dan 3 persen bagi non-NPWP, yang langsung dipotong dari nilai buyback.
Sementara itu, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemilik NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP. Setiap transaksi disertai bukti potong pajak resmi dari PT Antam Tbk.
Penurunan harga emas Antam ini kontras dengan pergerakan emas di Pegadaian. Berdasarkan laman Sahabat Pegadaian, harga emas Galeri24 justru melonjak Rp192.000 menjadi Rp3.260.000 per gram.
Emas UBS juga mengalami kenaikan signifikan sebesar Rp139.000 menjadi Rp3.275.000 per gram. Perbedaan arah harga ini membuat investor ritel dihadapkan pada pilihan yang semakin kompleks dalam menentukan merek dan waktu pembelian.
Bagi pembeli, koreksi harga emas Antam membuka peluang masuk dengan harga lebih rendah. Namun bagi pemilik emas yang ingin mencairkan aset, penurunan buyback berpotensi menekan nilai dana yang diterima.
Di sisi global, harga emas dunia justru mencetak rekor tertinggi baru dengan menembus US$5.000 per ons. Pada perdagangan Senin (26/1/2026), harga emas spot naik ke US$5.029,62 per ons, mencerminkan derasnya arus dana ke aset safe haven.
Analis independen Ross Norman memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$6.400 per ons sepanjang 2026, dengan rata-rata tahunan di kisaran US$5.375 per ons.
Saxo Bank bahkan mengemukakan skenario ekstrem yang dapat mendorong harga emas hingga US$10.000 per ons jika terjadi krisis kepercayaan global, termasuk ancaman keamanan digital dan eskalasi geopolitik.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebelumnya menyebut lonjakan harga emas menjadi salah satu pemicu utama inflasi Desember 2025 yang mendekati 3 persen. Menurutnya, penimbunan emas oleh banyak negara akibat ketegangan geopolitik telah mendorong kenaikan harga global.
Dengan volatilitas harga yang tinggi, investor dan masyarakat diimbau lebih cermat menentukan strategi beli dan jual emas. Selisih harga, potongan pajak, serta fluktuasi harian kini menjadi faktor penentu untung atau rugi dalam investasi emas.

