Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik

Jokowi Tegaskan Siap Bekerja Total untuk PSI di Rakernas

AMANAH INDONESIA, JAKARTA -- Perjalanan Joko Widodo (Jokowi) dari Wali Kota Solo hingga menjadi presiden tidak hanya ditandai oleh aktivitas politik konvensional. Kehadirannya di media sosial sejak era Facebook dan Twitter juga dinilai ikut membentuk cara baru dalam membangun komunikasi dengan publik.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menyebut Jokowi sebagai “presiden Facebook pertama”. Istilah itu merupakan penilaian Yunarto untuk menggambarkan cara Jokowi memanfaatkan media sosial ketika platform digital mulai menjadi bagian penting dari komunikasi politik.

“Dia presiden Facebook pertama kalau lo ingat. Dan Twitter saat itu. Yang akhirnya memaksa PDIP wah gak bisa nih kader kita yang ini luar biasa,” tukas Yunarto dalam diskusi pada Rabu (30/9/2026).

Menurut Yunarto, penggunaan media sosial menjadi salah satu bagian dari perjalanan politik Jokowi ketika namanya mulai dikenal lebih luas, dari level daerah hingga panggung nasional.

Jokowi Dinilai Hadir sebagai Figur “Orang Biasa”

Yunarto tidak hanya melihat media sosial sebagai faktor yang berdiri sendiri. Ia mengaitkannya dengan latar belakang Jokowi yang menurutnya tidak berasal dari kelompok elite politik.

“Kenapa Jokowi dulu menjadi sangat besar? Karena dia halayak. Dia berasal dari kelas menengah biasa,” ujar Yunarto, Rabu (30/9/2026).

Dalam pandangannya, karakter tersebut kemudian berpadu dengan perkembangan media sosial yang memungkinkan tokoh politik berkomunikasi lebih langsung dengan masyarakat.

Jokowi, menurut Yunarto, mampu menampilkan sisi personal di ruang digital sehingga citranya terasa lebih dekat dengan pengguna media sosial.

Gaya “Just Like Us” di Media Sosial

Yunarto menggunakan istilah “just like us” atau seperti masyarakat pada umumnya untuk menggambarkan cara Jokowi tampil di media sosial.

“Yang sempat jadi orang biasa saja, yang ketika bermain sosmed just like us,” jelasnya.

Pada masa itu, Facebook dan Twitter berkembang menjadi ruang baru dalam komunikasi politik. Tokoh politik tidak lagi hanya mengandalkan pemberitaan media massa, tetapi juga dapat hadir langsung di hadapan publik melalui akun media sosial.

Dalam pandangan Yunarto, perubahan tersebut ikut menggeser cara publik melihat seorang tokoh. Kehadiran personal di media sosial dapat membuat komunikasi politik terasa lebih dekat dibandingkan komunikasi yang sepenuhnya dilakukan melalui tim atau pengelola akun.

Bukan Sekadar Memiliki Akun

Yunarto menilai keberadaan akun media sosial saja belum cukup untuk membangun kedekatan dengan publik.

Ia membandingkan pengalaman tersebut dengan figur politik yang memiliki latar belakang elite dan lebih banyak mengandalkan pengelola akun untuk menjalankan komunikasi digital.

“Kalau lo perhatiin, mohon maaf ya, darah biru, kebanyakan admin bos. Akhirnya mereka tetap gagalnya itu di dunia sosmed,” ucapnya.

Menurut Yunarto, tim media sosial tetap memiliki fungsi penting, tetapi kehadiran langsung tokoh politik tidak sepenuhnya dapat digantikan.

“Mau sehebat apapun lu punya yang namanya tim sosmed, tapi lu gak ada di situ langsung, lu gak akan bisa jadi besar,” tegasnya.

Ia melihat kecenderungan tersebut juga mulai diikuti semakin banyak figur politik dari berbagai latar belakang yang berusaha membangun social media presence secara langsung.

“Yang gue lihat juga kayaknya orang-orang yang non-darah biru pun juga sekarang memiliki kepentingan yang besar untuk memiliki social media presence yang kuat gitu,” tandasnya.

Elektabilitas Jokowi Naik Menjelang Pilpres 2014

Popularitas Jokowi di tingkat nasional kemudian berkembang bersamaan dengan meningkatnya angka elektabilitasnya dalam sejumlah survei menjelang Pemilu 2014.

Survei Charta Politika yang dilakukan pada 1–8 Maret 2014 terhadap 1.200 responden menempatkan Jokowi di angka 37,4 persen dalam simulasi tertutup. Prabowo Subianto berada di angka 14,5 persen. Survei tersebut menggunakan wawancara tatap muka dan memiliki margin of error sekitar 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Pada periode yang hampir sama, survei Indikator Politik Indonesia yang berlangsung 18 Januari–2 Februari 2014 mencatat Jokowi memperoleh 41,5 persen dalam simulasi enam nama calon presiden. Prabowo berada di angka 16,3 persen. Survei tersebut menggunakan total 2.050 sampel setelah oversample di DKI Jakarta dan memiliki margin of error sekitar 2,4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Angka tersebut merupakan elektabilitas, bukan ukuran tingkat keterkenalan atau popularitas seorang tokoh. Karena itu, hasil survei tersebut menunjukkan preferensi pilihan responden dalam simulasi yang digunakan masing-masing lembaga, bukan ukuran tunggal mengenai seberapa dikenal Jokowi oleh masyarakat.

Media Sosial Menjadi Bagian dari Perubahan Komunikasi Politik

Istilah “presiden Facebook” yang digunakan Yunarto pada dasarnya menggambarkan satu fase dalam perkembangan komunikasi politik Indonesia ketika media sosial mulai menjadi bagian dari interaksi antara tokoh politik dan masyarakat.

Dalam penilaian Yunarto, Jokowi memiliki kombinasi antara citra sebagai figur dari kalangan masyarakat biasa dan kehadiran personal di media sosial. Kombinasi itu, menurutnya, menjadi salah satu unsur yang membedakan cara Jokowi berkomunikasi dengan publik.

Penggunaan media sosial oleh Jokowi juga berkembang sebelum dirinya menjadi presiden. Jejak aktivitasnya di Facebook dan Twitter muncul ketika ia masih berada di panggung politik daerah, sebelum kemudian menjadi bagian dari komunikasi politik dalam perjalanan menuju Pemilu 2014.

Bagi Yunarto, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa komunikasi digital tidak hanya bergantung pada seberapa besar sebuah tim mengelola akun. Kehadiran langsung tokoh, gaya komunikasi, dan kemampuan membangun interaksi dengan pengguna juga menjadi bagian dari proses tersebut.

Dengan kerangka itu, sebutan “presiden Facebook pertama” bukanlah gelar resmi bagi Jokowi, melainkan cara Yunarto menggambarkan peran media sosial dalam perjalanan komunikasi politik Jokowi dari level lokal hingga nasional.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik
  • Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik
  • Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik
  • Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik
  • Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik
  • Yunarto Wijaya Sebut Jokowi 'Presiden Facebook Pertama', Soroti Gaya Komunikasi Politik