Kualitas Udara Jakarta Masuk 6 Terburuk Dunia, AQI Capai 156
![]() |
| Polusi Udara |
AMANAH INDONESIA, JAKARTA – Kualitas udara Jakarta pada Kamis pagi masuk peringkat keenam terburuk di dunia berdasarkan data pemantauan IQAir pada pukul 06.00 WIB. Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta tercatat 156 dan masuk kategori tidak sehat.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Kualitas udara yang buruk terutama menjadi perhatian bagi kelompok yang sensitif terhadap polusi udara.
Jakarta Masuk Enam Kota dengan Udara Terburuk
Pada pemantauan yang sama, Jakarta berada di posisi keenam dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Posisi teratas ditempati Uganda dengan AQI 209. Selanjutnya, Kuching, Malaysia, berada di posisi kedua dengan AQI 176, sedangkan Lahore, Pakistan, berada di urutan ketiga dengan AQI 173.
Sementara itu, AQI Jakarta yang mencapai 156 menunjukkan kondisi udara berada dalam kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut membuat aktivitas di luar ruangan perlu dilakukan dengan lebih hati-hati, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Pemprov DKI Siapkan Strategi Kurangi Polusi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menjalankan sejumlah strategi untuk memperbaiki kualitas udara, salah satunya melalui sektor transportasi.
Pemprov DKI memperluas jangkauan layanan bus Transjabodetabek untuk mendorong masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Sejumlah rute yang telah dikembangkan antara lain Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK 2. Pemprov DKI juga menyiapkan rute baru dari Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang telah disediakan pemerintah.
Pemprov DKI juga telah menerbitkan aturan mengenai layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.
Transportasi Jadi Penyumbang Besar Emisi Jakarta
Penguatan transportasi publik menjadi penting karena sektor transportasi saat ini menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta.
Konektivitas transportasi Jakarta disebut telah mencapai 92 persen, yang menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.
Pemprov DKI menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030 sebagai salah satu langkah mengurangi emisi dari sektor transportasi.
"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," kata Pramono saat menghadiri acara Townhall Meeting yang membahas isu dan solusi mengatasi polusi udara di Melting Pop, M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2).
Peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diharapkan dapat mengurangi emisi dari transportasi, terutama di wilayah perkotaan dengan mobilitas kendaraan yang tinggi.
Pengelolaan Sampah Juga Jadi Perhatian
Selain transportasi, Pemprov DKI Jakarta menempatkan sektor pengelolaan sampah sebagai bagian dari strategi memperbaiki kualitas udara.
Pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di sejumlah lokasi, termasuk Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
Proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini.
Pengolahan sampah menjadi perhatian karena pengelolaan yang tidak optimal dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara, termasuk melalui aktivitas pembakaran sampah secara terbuka.
"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," pungkasnya.
Apa yang Perlu Dilakukan Saat Udara Tidak Sehat?
Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, masyarakat dapat mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Masyarakat juga dapat memantau perkembangan kualitas udara secara berkala sebelum menentukan aktivitas di luar rumah.
Bagi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi, kondisi udara buruk perlu menjadi pertimbangan lebih serius. Pengurangan paparan polusi menjadi salah satu langkah penting ketika indeks kualitas udara meningkat.
Kondisi Jakarta yang sempat masuk enam kota dengan kualitas udara terburuk dunia menunjukkan bahwa perbaikan kualitas udara membutuhkan langkah jangka panjang. Penguatan transportasi publik, elektrifikasi armada, serta pembenahan pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. (*)

