AS vs Iran Kian Tegang, Ultimatum Trump Jadi Sorotan
![]() |
| Donald Trump |
AMANAH INDONESIA -- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam. Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Iran dapat dihancurkan sepenuhnya hanya dalam waktu satu malam.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin (6/4).
"Seluruh negara (Iran) dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump.
Ultimatum Soal Selat Hormuz
Ancaman tersebut bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pada 30 Maret, Trump telah memperingatkan kemungkinan serangan besar terhadap berbagai infrastruktur vital Iran, mulai dari pembangkit listrik hingga fasilitas minyak dan desalinasi.
Langkah itu berkaitan dengan tuntutan agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Trump bahkan menyebut operasi militer dapat dilakukan paling cepat pada 7 April jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Iran Siapkan Respons
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan respons atas berbagai usulan mediator terkait gencatan senjata.
Meski Trump menyebut adanya pembicaraan produktif, Iran membantah telah terjadi dialog langsung.
Teheran menegaskan komunikasi yang berlangsung hanya melalui perantara, terkait upaya meredakan konflik yang terus memanas.
Awal Eskalasi Konflik
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak 28 Februari 2026, saat Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Iran.
Serangan tersebut menimbulkan korban sipil dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Tak hanya itu, Iran juga mengambil alih kendali atas Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Ancaman Dampak Global
Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran internasional, terutama terkait stabilitas pasokan energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga energi serta berdampak pada perekonomian dunia.
Jika situasi terus memburuk, konflik ini tidak hanya akan berdampak regional, tetapi juga berisiko mengguncang stabilitas global.

